Pada Rabu, 6 Mei 2026 masyarakat Taruban melaksanakan prosesi Nguras Sendang, sebuah tradisi turun-temurun yang menjadi bagian penting dari rangkaian upacara adat Merti Desa Taruban Tahun 2026.
Tiga sumber mata air utama, yakni Sendang Kamulyan, Sendang Alit, dan Sendang Ngepreh, menjadi pusat pelaksanaan kegiatan. Ritual ini bukan sekadar pembersihan fisik sumber air, melainkan simbol pembersihan diri dan rasa syukur atas melimpahnya berkah alam bagi warga desa.
Semangat Kebersamaan dan Pelestarian Budaya.
Acara diawali dengan sambutan pambagyaharja oleh panitia yang diwakili oleh Dukuh Taruban Wetan, Ibu Siti Aisyah. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan ucapan terima kasih atas kehadiran para tamu undangan dan partisipasi aktif seluruh warga. Ibu Siti Aisyah juga memaparkan rangkaian upacara adat Merti Desa Taruban 2026 yang telah dan akan dilaksanakan, di antaranya:
3 Mei : Kerja Bakti Lingkungan
6 Mei : Prosesi Nguras Sendang
7 Mei : Prosesi Ziarah Makam Leluhur
8 Mei (Malam) : Pengajian dan Mujahadah
9 Mei (Malam) : Pentas Seni Tayub.
10 Mei : Puncak acara berupa Kirab Budaya dan Pagelaran Wayang Kulit.
Dukungan penuh juga datang dari pemerintah kalurahan. Lurah Tuksono dalam sambutannya menekankan bahwa Merti Desa adalah warisan adat tradisi yang harus terus dijaga. Acara kuras sendang ini dikandung maksud supaya masyarakat Taruban Kulon, Taruban Wetan khususnya dan masyarakat Tuksono umumnya bersih lahir dan batin sehingga dimudahkan rezekinya.
Simbah Ribut, selaku Juru Kunci Sendang Kamulyan, memimpin jalannya prosesi pengurasan sendang. Dengan penuh ketulusan, warga bahu-membahu membersihkan area sendang.
Kehadiran berbagai tokoh penting menunjukkan betapa besarnya nilai strategis tradisi ini bagi pelestarian budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Turut hadir dalam acara ini:
Perwakilan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY
Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kulon Progo
Panewu Sentolo dan Kapolsek Sentolo
Lurah beserta Pamong Kalurahan Tuksono
Ketua Bamuskal Tuksono
Ketua Kalurahan Mandiri Budaya
Ketua Desa Wisata serta Pendamping Budaya
Dengan gotong royong, tradisi Merti Desa Taruban diharapkan dapat terus lestari dan membawa keberkahan bagi seluruh lapisan masyarakat.